2/03/2010

APA YANG HILANG DALAM PENDIDIKAN KITA…???

Beberapa waktu lalu, saya merenung atas apa yang saya lihat, alami dan rasakan saat mengajak kerja bakti anak-anak di lingkungan sekolah…sungguh diluar dugaan. Ada kekecewaan, keresahan dan rasa miris (jw. Khawatir diiringi rasa ngeri).
Melihat kenyataan seperti itu, kemudian memunculkan banyak pertanyaan tentang apa yang sudah dilakukan oleh sebagian teman-teman saya di lapangan. Mengapa saya katakan sebagian? Karena saya yakin, masih banyak...

teman-teman seprofesi yang sudah memberikan semua potensi terbaiknya kepada peserta didik tanpa pilih kasih.
Memang sepintas tidak etis, karena bercerita tentang keluarga besar sendiri. Namun kenapa harus kita menutupinya kalaulah setelah ini dapat menjadi sarana evaluasi bagi kita semua.
Kesimpulan sementara atas apa yg saya rasakan dan lihat antara lain berkurangnya rasa tanggung jawab, belum tumbuhnya rasa kebersamaan dengan baik, rendahnya keinginan menjaga sarana umum di sekolah, kurangnya disiplin, keinginan menjadi yang terbaik masih rendah, rasa malu yang mulai berkurang, budaya rapi bersih yang juga masih rendah, dll.
Mengapa mereka berlaku seperti itu? Informasi apa yang belum tersampaikan pada mereka ?
Sudah seharusnya hal-hal di atas tidak perlu terjadi di lingkungan pendidikan kita, sekiranya kita selaku pendidik mengetahui, memahami, menghayati serta mengamalkan gaya kepemimpinan yang dicontohkan ( Alm) Ki Hajar Dewantara. Sederhana memang pernyataan beliau “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI” tapi sangat besar maknanya karena mencakup aspek “HEART, HEAD dan HAND”. Sebuah gaya kepemimpinan yang sangat dinamis dan luar biasa.
Dalam memraktikan ketigal hal tersebut tidak perlu kita memberi porsi yang sama. Besarnya porsi masing-masing sangat bersifat situasional. Porsi saat berhadapan dengan peserta didik SD tentu akan berbeda dengan porsi saat berhadapan dengan anak SMP atau SMA atau Mahasiswa, tetapi ketiganya harus tetap hadir bersama.
Tetapi yang harus dipahami oleh kita adalah apa dan bagaimana kita harus berperan saat kita berada pada posisi memposisikan “ING NGARSO ” atau “ING MADYO ” atau saat kita memposisikan diri saat “TUT WURI ”
Dalam Intellectual Effectiveness Series, dinyatakan saat kita berada dan berperan di depan (ING NGARSO ) kita harus mampu melakukan 3 (tiga) hal yaitu :

1. Kepemimpinan yang diawali dengan visi yang bersih dan jelas . Saat kita mengajak siswa melakukan sesuatu , kita harus dapat menjelaskan kepada mereka sejelas-jelasnya kenapa dia harus “begini” dan harus “begitu”. Jangan sampai kita tidak paham akan tujuan saat kita mengajaknya melakukan suatu aktivitas. Ajari mereka berpikir jauh ke depan melalui pengamatan terhadap diri kita. Keteladanan seperti ini sungguh sangat penting.
Dalam buku “The One Minute Manager” dikatakan , bayangkan jika dalam sebuah pertandingan sepak bola tidak ada gawangnya, ini akan membuat para pemain menjadi frustasi dan bergerak tanpa tujuan.

2. Berikan penghormatan kepada mereka melalui kepercayaan yang kita berikan.
Sekecil apapun kita harus belajar memberikan kepercayaan kepada mereka. Kesalahan-kesalahan kecil adalah hal yang wajar, karena memang dia sedang pada tahap belajar. Jangan karena kesalahan itu kemudian kita tidak lagi memberikan kepercayaan pada mereka. Kewajiban kita adalah meluruskan kesalahan-kesalahan tersebut agar kelak tidak terjadi kesalahan lagi. Berikan support positif kepadanya agar dia terpacu untuk terus berusaha menjadi yang terbaik. Kesalahan besar yang sering kita lakukan adalah mengecilkan hasil jerih payahnya, alhasil kemudian mereka merasa tidak dihargai. Kalau itu yang selalu menjadi penggambaran atas mereka, jangan harap kita akan menemukan anak-anak yang ulet, gigih , dan selalu berusaha menjadi yang terbaik.

3. Pimpin Mereka dengan keteladanan
Hingga saat ini masih banyak diantara kita baru bisa memberikan contoh-contoh yang baik, namun masih sedikit yang bisa menjadi contoh yang baik. Oleh karenanya jadikan diri kita teladan bagi mereka.

Lalu apa yang kita lakukan saat kita berada di tengah-tengah mereka?

1. Berperanlah seperti seorang “coach”
Tidak ada seorang coach menginginkan timnya kalah…selalu dan selalu menginginkan menjadi yang terbaik. Pendidik yang baik, jadilah motivator yang handal atas peserta didik kita agar mereka meraih puncak kesuksesan. Jangan kita menjadi orang yang kurang peduli terhadap mereka. Sampaikan apa yg harus mereka lakukan, berikan petunjuk mengerjakan dengan benar, beri kesempatan untuk mencoba, berikan pujian atas apa yang telah diupayakan.

2. Ciptakan suasana seperti tim yang menang
Sama seperti dalam suatu perusahaan, guru, wali kelas, wakasek, kepala sekolah serta komponen staf lain, pada prinsipnya mereka semua adalah manajer. Sebagai manajer kita harus mampu membangun sebuah sinergi yang baik. Kita harus mampu mengoptimalkan setiap individu sehingga menimbulkan gerak satu kesatuan dalam kesearahan dan harmonis.

3. Bangun Komunikasi yang baik
Siswa adalah manusia yang perlu bantuan. Kita harus mampu berkomunikasi dengan baik terhadap mereka. Kualitas komunikasi akan memberikan pengaruh terhadap keberhasilan kita dalam membantu mereka. Dalam hukum komunikasi, agar sistem komunikasi dengan para peserta didik berjalan efektif, maka harus kita pahami 4 hal, yaitu rasa saling menghargai, berusaha mengerti dan memahami, rendah hati, menggunakan media yg tepat dan gunakan bahasa yang jelas serta mudah dipahami olehnya.

4. Harus mendorong untuk selalu berinovasi
Gerakkan anak-anak kita untuk menjadi generasi yang inovatif. Ciptakan di sekolah suasana-suasana dan kondisi-kondisi yang mendukung ke arah itu. Guru harus menjadi inovator bagi mereka. Bagaimana anak akan berkembang sifat inovatifnya kalau mereka melihat para gurunya sangat pasif tidak pernah mencoba serta mengeksplorasi hal hal baru untuk kemajuan anak-anak.

Saat mengiringi mereka, “TUT WURI HANDAYANI” kita sebagai seorang pemimpin harus mampu:

1. Menjadi Pengungkit
Kepemimpinan yang efektif bukanlah kepemimpinan yang mengharuskan seorang pemimpin selalu hadir ditengah-tengah mereka, kemudian tim baru bekerja secara maksimal. Hal demikian sungguh sangat keliru. Kepemimpinan efektif adalah kepemimpinan yg mampu menumbuhkan karakter pada setiap yg dipimpin untuk melakukan aktivitas sesuai tanggung jawabnya tanpa mengharuskan kehadiran pemimpinnya. Seorang guru harus bisa memimpin dengan gaya seperti ini. Coba Anda bayangkan, kalau siswa hanya segan dan takut sekiranya ada guru yang melihatnya atau menunggunya saat-saat mereka berkegiatan. Ironis bukan? Pada hal kita menuntut mereka semua agar taat terhadap aturan tanpa harus ada yang mengawasinya.

2. Memimpin dengan kecerdasan spiritual.
Memimpin dengan gaya seperti ini tidak semua orang bisa melakukannya. Karena kepemimpinan seperti ini memerlukan sebuah kesadaran yang tinggi sebagai sebuah bentuk pengorbanan. Kita harus bisa rendah hati, tenang, mau melayani,mendengar serta menerima saran atau kritik, bisa mengakui kesalahannya, dll. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi pada manusia. Tanamkan nilai-nilai ini pada mereka sejak dini.

Sungguh sebuah gaya kepemimpinan yang paripurna bagi seorang pendidik. Namun kenyataannya di lapangan kadang-kadang masih berbicara lain. Nah itulah yang mendorong munculnya pertanyaan-pertanyaan berikutnya, apa saja yang selama ini telah dilakukan teman-teman semua terhadap peserta didiknya. Sebatas mentransfer ilmu pengetahuan atau mentransfer ilmu pengetahuan yang diikuti transfer nilai-nilai luhur kehidupan?

Baca Selengkapnya ..

1/19/2010

Ingin Kuliah ???

masih-kuliah.jpg
Tidak lama lagi pelaksanaan ujian nasional SMA akan segera dimulai, Insya Allah Maret, sekitar minggu ke-2 atau ke-3 kegiatan tersebut akan digelar. Kemudian hari-hari yang ditunggu oleh setiap peserta ujian pun tiba, pengumuman hasil Ujian Nasional. Nah setelah itu, akan kemana mereka ?
Jawaban yang dominan hanya dua, yaitu melanjutkan studi atau ingin segera bekerja dengan ijazah yang mereka peroleh. Untuk pilihan ke-2 tentu mereka harus ...
pandai membaca peluang, karena betapa besar jumlah lulusan yang sama-sama ingin mendapatkan pekerjaan. Sungguh sebuah persaingan yang sangat luar biasa.
Bagi mereka yang memilih untuk melanjutkan studi, perjuangannya pun juga tidak ringan, persaingan yg juga ketat untuk memperoleh kursi di Perguruan Tinggi idamannya akan mereka tempuh.
Sebelum Anda memutuskan untuk memilih sebuah perguruan tinggi dan jurusannya, beberapa pertimbanganharus Anda pedomani:
1. Kemampuan akademik dan Minat
Kemampuan akademik setiap orang tidak sama, ada yang tinggi, sedang, atau (maaf) di bawah rata-rata. Saat Anda ingin menentukan pilihan Perguruan Tinggi dan jurusannya, maka beberapa pertanyaan harus Anda Jawab dengan jujur, antara lain Seberapa kemampuan akademik Anda dan seberapa besar minat Anda dengan pilihan tersebut ? Jangan memaksakan pilihan Anda pada Perguruan Tinggi ternama dengan jurusan yang Favorit kalau Anda merasakan kurang mampu bersaing untuk mendapatkan ”kursi”.
2. Pemilihan Jurusan
Banyak sekali kasus-kasus ditemukan berkaitan kegagalan para calon mahasiswa yang sedang mengikuti SNPTN. Ketika dicermati lebih jauh, ternyata kekeliruan terletak pada penentuan pilihan. Di setiap Perguruan Tinggi (PT) memiliki jurusan-jurusan yang difavoritkan, sehingga peminat untuk jurusan tersebut bisa membludak . Persaingan akan semakin ketat manakala para pemilih hanya memfokuskan pada pilihan tersebut. Oleh karenanya penting juga saat Anda akan memilih suatu program perhatikan statistik peminat tahun-tahun sebelumnya agar Anda tidak terjebak.
3. Prospek Masa Depan
Tidak sedikit kita temukan mahasiswa yang pindah program atau pindah jurusan setelah mengikuti perkuliahan. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk keluar dan mengikuti seleksi yang baru sekalipun harus rugi waktu dan biaya. Kenyataan ini memberikan gambaran pada kita bahwa pilihan pertamanya dirasa kurang tepat, tentu dengan alasan-alasan yang berbeda. Untuk itu, mulai saat sekarang para siswa kelas XII atau Anda yang akan memasuki Perguruan Tinggi harus sudah tahu itu semua. Adalah tugas para guru untuk bisa memberikan gambaran jelas tentang orientasi perguruan tinggi.
4. Biaya
Diakui oleh kita semua bahwa biaya pendidikan saat ini begitu mahal, sehingga untuk belajar ke Perguruan Tinggi tidak sedikit pengorbanan para orang tua demi anak-anaknya agar bisa kuliah. Bagi mereka yang berkecukupan biaya kuliah bukan persoalan sulit, tapi bagi yang berada pada kondisi ”pas-pasan”, biaya itu akan begitu terasa bebannya. Oleh karena pandai-pandai lah Anda menyesuaikan dengan kondisi perekonomian keluarga. Jangan memaksakan, toh kalau Anda ingin melanjutkan studi lagi, hal ini Anda bisa lakukan setelah Anda bekerja lebih dahulu.
5. Kualitas Perguruan Tinggi
Kualitas dalam konteks ini mencakup pengertian yang menyeluruh. Kualitas sarana dan prasarana penunjang proses belajar dan kualitas layanan belajar.
Jangan hanya karena ingin mengejar ingin kuliah porsi ini Anda abaikan. Bagaimanapun, kualitas dan reputasi perguruan tinggi akan memberikan pengaruh bagi para alumninya dalam memperoleh pekerjaan yang diinginkan kelak. Memang tidak mudah untuk bisa memasuki kuliah di Pergutuan Tinggi seperti itu, tapi dengan usaha yang sungguh-sungguh Insya Allah keinginan Anda bisa terwujud.
Disamping itu juga perhatikan hasil akreditasi dari perguruan tinggi bersangkutan serta statusnya. Status inilah yang saat ini menjadi salah satu faktor utama yang digunakan PTS untuk mengiklankan dirinya.

Selamat berjuang para Srikandiku dan Arjunaku....

Baca Selengkapnya ..

11/25/2009

"CITIZEN LAW SUIT" UJIAN NASIONAL

Peringatan Hari Guru tahun ini dirayakan dengan penuh hikmat di berbagai daerah, tidak ketinggalan juga di daerah ku, daerah yang jauh dari hingar bingarnya ibu kota. Namun dibalik kehikmatan itu, mungkin baru sebagian teman-teman sejawat yang tahu tentang apa dan bagaimana nasib UNAS saat ini dan saat mendatang setelah digugat melalui proses citizen law suit. Dan hasilnya MA mengabulkan gugatan tersebut dan bahkan MA juga menolak kasasi pemerintah berkenaan hal ujian nasional itu.

"Dengan ditolaknya kasasi itu, diharapkan, UN tidak lagi menjadi alat penentu kelulusan. Penyelenggaraan ujian akhir dan penentuan kelulusan sudah seharusnya dikembalikan kepada guru dan satuan pendidikan (sekolah), demikian keinginan sebagian pengamat dan pemerhati pendidikan di negeri ini, meskipun....

juga ada yang menyambut dingin keputusan ini.
Kepastian ditolaknya permohonan kasasi pemerintah ini dituangkan di dalam Putusan MA tertanggal 14 September 2009 bernomor register 2596 K/PDT/2008 ,seperti dilansir di situs resmi MA. Perkara hukum mengenai UN ini muncul sudah cukup lama yaitu sejak tahun 2006 silam menyusul gugatan warga negara yang diajukan 58 guru. Ketika itu PN Jakarta Pusat mengabulkannya dengan dikuatkan putusan banding dan kasasi.

Terlepas pro dan kontra terhadap keputusan ini, tentunya kita harus tetap memberikan suatu penghargaan positif. Tinggal bagaimana kita, kemudian menyikapinya secara arif dan bijaksana tanpa harus mengorbankan banyak hal.

Saat keputusan ini akan dilaksanakan, sudah terbayang oleh kita beberapa kemungkinan persoalan yang sudah siap menghadang, sebut saja keberanian suatu sekolah secara tegas menyatakan tidak lulus siswanya karena betul-betul yang bersangkutan belum berhak menyandang lulus. Karena selama ini masih ada sebagian sekolah yang kelulusannya berlindung dibalik hasil UNAS. Belum lagi persoalan biaya. Karena dengan keputusan ini ada kemungkinan - kemungkinan diulangnya UNAS bagi yang tidak lulus.

Persoalan mendesak yang harus kita hadapi saat ini adalah bagaimana mempersiapkan mereka (para siswa) menghadapi ujian nasional yang rencananya akan dimajukan pada bulan Maret 2010 (untuk SMA).

"Ujian Nasional penting. Tanpa Ujian Nasional kualitas tidak bisa diukur secara nasional, hanya lokal saja," demikian ujar Mungin Edi Wibowo anggota BSNP.

Baca Selengkapnya ..

11/11/2009

SEPUTAR UNAS SMA 2010


SEMARANG(SI) – Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) memutuskan untuk mempercepat waktu Ujian Nasional (UN) 2010 satu bulan dari bulan biasanya.Dengan demikin,UN bakal dilaksanakan pada minggu ketiga Maret 2010.

Anggota BSNP,Prof Mungin Eddy Wibowo mengungkapkan, keputusan tersebut diambil lantaran pada tahun tersebut pihaknya menggelar ujian ulangan. ‘’Ujian ulangan diberikan kepada siswa yang dinyatakan tidak lulus pada UN reguler. Kalau dahulu, siswa harus ikut Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) atau mengulang tahun depan. Untuk tahun ini,kami memberikan kesempatan kedua,’’ terang Mungin kemarin. Ujian ulangan tersebut, lanjutnya, akan dilakukan satu bulan setelah UN reguler selesai digelar dan hasilnya sudah diumumkan.

Ia mengaku, keputusan itu dengan harapan agar para siswa yang tidak lulus dan mengulang untuk dapat mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Siswa,imbuhnya, dapat mengikuti ujian ulangan hanya pada mata pelajaran tertentu yang dinyatakan ...
tidak lulus. ‘’Keputusan itu sudah dinaungi dalam Peraturan Menteri(Permen),’’ katanya. Ia menuturkan, BNSP masih menyediakan ulangan susulan bagi siswa yang melewatkan UN reguler karena alasan tertentu.

Hal lain yang membedakan pelaksanaan UN 2010,yaitu adanya sistem silang siswa dalam satu rayon.Hal itu dilakukan untuk menghindari kecurangan yang dilakukan antara sekolah dengan siswa maupun antara siswa. ”Kalau dulu kan pengawas UN yang disilang.Sekarang ini siswanya. Bahkan mungkin, silang akan berlaku untuk siswa SMA dan MA.Dengan syarat, jarak sekolah yang disilangkan harus berdekatan,’’ jelasnya. Kepala SMAN 3 Semarang Sudjono mengaku tidak kaget dan menyatakan siap jika UN harus diajukan menjadi bulan Maret.

Hal itu, tidak banyak memberikan dampak kekhawatiran karena siswanya sudah dipersiapkan dengan matang. Ia menyoroti, adanya kemungkinan penyelenggaraan UN ulangan tersebut untuk lebih menyaring kompetensi dan kualitas siswa dalam rangka kaitannya dengan integrasi UN dan SNMPTN. ‘’Bisa jadi pada UN 2010 nanti, bobot soal agak berat.Sehingga untuk mengantisipasinya ada ujian susulan untuk mengurangi angka ketidaklulusan. Mungkin juga UN reguler dengan UN ulangan mempunyai bobot soal yang berbeda.Tetapi kami sudah siap apapun itu,’’ tukasnya.

Dikpora Keberatan

Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menolak adanya rencana pemerintah untuk mengadakan ujian ulangan bagi siswa yang tidak lulus (gagal) dalam UN.Bagi Dewan Pendidikan ini bukan solusi yang efektif, terlebih UN sejak awal banyak yang pro dan kontra.

Ketua Dewan Pendidikan DIY Prof Wuryadi mengatakan, pengulangan ujian tersebut bukan solusi dalam dunia pendidikan, khususnya pada saat UN. Dikhawatirkan, UN akan dijadikan sebagai alat penentu kelulusan siswa.”UN jangan sampai jadi alat penentu kelulusan UN,kalau hanya sekedar untuk mengetahui kemampuan siswa justru saya setuju. Jadi kalau ulangan ujian nasional tidak perlu,” ujarnya.

Ia juga tidak terlalu yakin ujian ulangan akan memberikan banyak perubahan. Ia menyebutkan, kondisi peserta didik yang cukup beragam perlu mendapatkan perhatian yang serius dari stakeholder terkait. Misalnya dengan tidak menjadikan UN sebagai satu-satunya alat penentu kelulusan siswa. Sebaliknya karena guru yang lebih tahu banyak tentang kemampuan siswa, akan lebih baik apabila kelulusan ditentukan oleh sekolah.Tentunya tidak hanya menggunakan acuan nilai akademik,tapi juga ahlak dan budi pekerti siswa.

Pernyataan berseberangan muncul dari Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY, Prof Suwarsih Madya. Menurutnya, ujian ulangan ini akan dilakukan untuk menampung aspirasi masyarakat yakni siswa tidak lulus UN karena saat ujian berlangsung kondisinya kurang fit (sakit).Kendati demikian, hasil dari adanya ujian ulangan itu tetap perlu dievaluasi sejauh mana bisa membawa manfaat bagi siswa dan dunia pendidikan.

”Dengan adanya evaluasi tersebut diharapkan bisa diperoleh suatu solusi atau jalan keluar terbaik,” katanya. Tujuan ujian ulang, menurutnya, untuk membedakan siswa yang belajar dan tidak belajar. Sehingga lebih pada prinsip keadilan karena siswa yang belajar akan mendapatkan nilai bagus, sementara bagi mereka yang malas harus siap mengulang. ”Bagi kami, ujian ulang ini sebenarnya untuk mengukur kemampuan siswa sesungguhnya.

Bisa dilihat kalau dua kali tidak lulus berarti siswa tersebut memang tidak layak lulus. Jadi akan muncul prinsip keadilan,” tandasnya. Meski demikian,pihaknya belum mendapatkan kepastian pelaksanaan program ini. (sari septiyaningtias/ nugroho purbohandoyo)

Sumber : Sindo

Baca Selengkapnya ..

10/19/2009

Membangun Karakter Melalui Pendidikan

Gbr. acicis.murdoch.edu.au
Kalau kita mencermati apa yang terjadi di sekitar kita saat ini, kadang kita akan mengurut dada sambil menghela nafas dalam-dalam, lalu bertanya dimanakah julukan bagi negeri ini “bangsa yang santun, bangsa yang ramah, bangsa yang religius, bangsa yang memiliki rasa kekeluargaan tinggi, negeri yang cinta damai…” dan sebutan-sebutan lain yang sungguh menyejukkan hati setiap pendengarnya?
Nampak-nampaknya julukan itu saat ini hanya tinggal kenangan. Lihat peristiwa-peristiwa di sekeliling kita. Berita tentang kekerasan hampir tiap hari dapat kita temukan di media cetak, Televisi atau media lainnya. Demonstrasi yang berakhir anarkhis juga demikian.
Sungguh ...mengerikan. Maka wajar jika akhir-akhir ini banyak warga asing yang akan berhitung ulang ketika akan berkunjung ke negeri tercinta ini. Ini Sungguh berbeda dengan beberapa puluh tahun silam. Mereka menjadikan negeri ini sebagai tujuan utama untuk berlibur, berwisata, menghilangkan kejenuhan dari negeri mereka masing-masing
Lalu Kenapa hal ini berubah begitu cepat? Tentu kalau kita kaji lebih dalam, masalah ini bagai mengurai benang kusut. Rumit dan rumit. Namun demikian kerumitan serumit apapun sekiranya titik persoalannya bisa diurai, maka masalah tersebut bisa dikurangi. (kalau memang tidak bisa dihilangkan)
Pendidikan, berbicara tentang masalah ini sungguh sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, dalam setiap permasalahan yang timbul di masyarakat, pendidikan selalu termasuk yang disorotnya. Gejolak apa pun.
Ada sebagian dari mereka menyatakan bahwa pendidikan kita sekarang ini harus direformasi, karena apa yang selama ini diajarkan toh tidak membawa pengaruh yang signifikan dalam perubahan karakter manusia yang berujung pada karakter bangsa. Tetapi juga tidak menutup mata ada sebagian yang tetap ingin bertahan dengan gaya seperti ini.
Lalu harus bagaimana?
Dunia telah mengalami perubahan yang begitu cepat; tatanan nilai berubah, pengetahuan manusia berubah, gaya hidup berubah, dan hampir seluruh lini kehidupan manusia berubah.
Akankah kita tetap bertahan dengan pola lama? Tentu pilihan yang bijak “tidak akan demikian”, itu artinya dalam dunia pendidikan pun harus ada perubahan, agar misi utamanya yaitu membangun karakter manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur, bertanggung jawab, religius dan lain-lain dapat terwujud.
Terobosan-terobosan baru dalam dunia pendidikan saat ini sedang gencar digali agar pembelajaran yang berlangsung dapat memberikan pemaknaan yang lebih dalam bagi para generasi penerus.Perhatikan satu diantaranya yaitu “Pembelajaran dengan pendekatan Kontekstual” . Pembelajaran ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Sungguh luar biasa. Melihat hal ini sudah saatnya proses-proses pembelajaran harus mengaarah ke arah sana. Menurut hemat saya pembelajaran seperti itu akan jauh lebih menyentuh dan memberikan makna yag sangat dalam. Mengapa demikian, karena dalam pembelajaran ini meliputi beberapa aspek yang cukup penting :

1. Konstruktivisme
Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan untuk bekerja, menemukan, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan
dan keterampilan baru.

2. Menemukan
Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta).

3.Bertanya
Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui pengajuan pertanyaan (quesioning).
Guru dan siswa senantiasa mengembangkan pertanyaan agar menumbuhkan rasa ingin tahu. Komponen ini mendorong terwujudnya nilai orientasi pada keunggulan. Hal ini juga merupakan alat bagi siswa untuk dapat menyelesaikan masalah belajar ketika mendapati tantangan.

4. Masyarakat Belajar
Menciptakan masyarakat belajar (learning community) dengan membangun kerja-sama
antarsiswa. Praktiknya antara lain:
– Pembentukan kelompok kecil/besar
– Bekerja dengan kelas yang sederajat
– Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
– Bekerja dengan masyarakat.
Komponen ini sangat penting bagi upaya terwujudnya nilai demokratis, menghargai, gotong royong, bertanggung jawab, dan orientasi pada keunggulan.

5, Modeling.
Memodelkan (modelling) sesuatu agar siswa dapat menirunya untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru.
Banyak para pejuang di negeri ini yang patut untuk dibanggakan dan diteladani. Kita meneladani kejujurannya, kita meneladani keteguhan hatinya, jiwa rela berkorbannya demi bangsa, dll.
Komponen ini dapat melahirkan nilai-nilai berakhlak mulia, iman, dan taqwa, cinta tanah air, dan kreatif.

6.Refleksi
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru saja dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu.
Cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan. Refleksi dapat berupa pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya pada hari itu, baik berupa catatan atau jurnal di buku siswa, kesan maupun saran siswa. Komponen ini dapat melahirkan kesadaran untuk senantiasa berinterospeksi diri setiap kali telah melakukan sesuatu.

7.Penilaian Yang Sebenarnya
Komponen ini diharapkan mampu membiasakan siswa untuk senantiasa dapat mengukur diri apakah sudah baik? Apakah sudah maju? Apakah sudah berhasil? Adakah hambatan? Atau bagaimana cara mengatasi hambatan?
Anak-anak yang sejak dini terbiasa dengan hal ini akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan mampu secara obyektif menempatkan dirinya sesuai ddengan tanggung jawabnya kelak.
Hanya melalui pendidikan sejak dini dengan pola asuh yang demikian , maka citra bangsa kita tercinta yang akhir-akhir ini memprihatikan, lima, enam atau berapa tahun lagi pasti akan kembali semula.
Insya allah.

Referensi :

http://bpgdisdik-jabar.net/materi/14_smp_bing_1.pdf
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/29/pembelajaran-kontekstual/
http://karso.mulyo.blog.plasa.com/2009/02/01/membangun-karakter-bangsa-melalui-pembelajaran-kontekstual/

Baca Selengkapnya ..
Terima kasih atas kunjungannya ya....

Kalo ada waktu mampir lagi donk .... :)