8/19/2009

Pelatihan Dasar Internet Bagi Guru SD di Mempawah Hilir


Berlalu sudah. Itulah ungkapan yang pas untuk menyatakan berakhirnya kegiatan pengenalan dasar internet yang berlangsung satu hari itu. Tepatnya hari Selasa, 18 Agustus 2009. Kerjasama PT Telkom Mempawah dengan Laboratorium Komputer SMA 2 Mempawah.
Dihari itu, ruang kerjaku dihadiri kawan-kawan guru SD yang akan mengikuti kegiatan pelatihan dasar internet. Kebetulan juga pihak penyelenggara ...
mempercayakan penyampaian materinya padaku. Grogi…canggung… dan perasaan lain haru biru bercampur aduk ngga’ karuan. Takut materi ngga sesuai dengan yg diharapkan peserta.
Namun begitu pembukaan dan tanya jawab tentang hal-hal yg berbau internet dimulai, saya baru tahu dan menyadari bahwa masih banyak diantara kawan-kawan seprofesi ini ternyata penggunaan serta pemahaman internetnya masih harus ditingkatkan dan perlu kita bantu.
Oleh karenanya, saya, mewakili temen-temen peserta dalam kesempatan ini mengucapkan terima kasih atas partisipasi aktifnya PT.Telkom Mempawah yg telah menyelenggarakan pelatihan dasar internet bagi temen-temen guru. Kepada JM Telkom Mempawah, Pak Eno, beserta jajarannya, atas nama kawan-kawan diucapkan terima kasih. Termasuk doorprizenya yang diberikan.
“Bagi Bapak/Ibu Guru yang belum kebagian pelatihan ini, jangan merasa kecewa, karena PT. Telkom akan senantiasa mendukung kegiatan2 yang berhubungan dengan duniapendidikan”, demikian kata JM Telkom Mempawah saat memberikan sambutan dalam pembukaan pelatihan tersebut, sesaat sebelum doorprize disampaikan.

Ismail

Baca Selengkapnya ..

8/17/2009

Pemimpin Yang Baik

Percikaniman.com
Almuzzammil Yusuf

Seusai mengimami salat ashar Khalifah Umar bin Khattab menanyakan tentang keadaan salah seorang sahabatnya yang tak hadir salat berjamaah. Diberitahukan kepadanya bahwa sahabat tersebut sedang sakit. Umar segera menyempatkan diri untuk menjenguknya.

Sesampai di rumah sahabat yang sakit, Khalifah Umar mengetuk pintu memberi salam. Dari dalam sahabat tersebut menjawab salam, sekaligus bertanya, ''Siapa di luar?'' Umar menjawab, ''Umar bin Khattab.'' Mendengar yang datang adalah ....
Amirul Mukminin, sahabat tersebut langsung bangkit, sigap dan segera membuka pintu.

Melihat kesigapan dan ketergesaan sahabat itu, Umar segera bertanya, ''Mengapa engkau tak salat berjamaah bersama kami? Padahal Allah Ta'ala telah memanggilmu dari langit yang ketujuh hayya 'alas shalah (mari bersalat), akan tetapi engkau tidak menyambutnya! Sementara panggilan Umar bin Khattab sempat membuatmu gelisah dan ketakutan!''

Apakah hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa ini? Yakni, pertama, bahwa seorang pemimpin yang baik bukan semata merasa cukup dengan kesalehan dan ketaqwaan dirinya, tapi ia juga merasa bertanggung jawab besar untuk mengajak para pejabat dan masyarakat yang di bawah tanggung jawabnya untuk juga menjadi saleh. Oleh karenanya ia tak pernah menyia-nyiakan momentum untuk berpesan dan mencontohkan prilaku taqwa dalam arti sesungguhnya dan seluas-luasnya.

Kedua, pemimpin yang saleh tak akan pernah merasa bangga dengan penghormatan bawahannya yang tak proporsional, atau bahkan berlebihan. Apalagi kalau sampai penghormatan tersebut bertendensi untuk lebih memuliakannya daripada pemuliaan kepada Yang Maha Mulia, yakni Allah swt.

Karena jika hal itu dibiarkan terjadi, sama artinya ia telah membiarkan berkembangnya para ajudan, pembantu, dan masyarakat yang hanya akan mampu berkata ''yes Sir'' atau ABS (asal bapak suka). Tidak ada lagi iklim ''wa tawa shau bil haq wa tawa shau bis shobr'' (saling berpesan kebenaran dan saling berpesan kesabaran).

Jika sudah begitu, terjadilah apa yang disumpahkan Allah dalam surat Al-Ashr bahwa mereka semua akan berada dalam kerugian. Itulah sebabnya ketika seorang sahabat melarang sahabat lainnya karena terlalu sering menegur Khalifah Umar dengan ucapannya ''Takutlah kepada Allah, hai Umar'', ternyata teguran itu justru didukung Khalifah Umar sendiri. Kata Khalifah, ''Biarkan ia mengatakannya. Kalau orang-orang ini tidak menegurku sedemikian, maka mereka menjadi tak berguna; dan jika aku tidak mendengarkannya, maka aku malah bersalah.''

Semoga kita terjauhkan dari sumpah Allah tadi, yakni ditetapkan sebagai masyarakat dan bangsa yang merugi. Karena jika itu terjadi, maka takkan ada bentuk kekuatan apapun yang mampu membalikkan jarum sejarah menuju ketentraman dan keberkahan. Tidak juga sejuta pakar, teori pembangunan dan teknologi canggih, kecuali bertobat dan kembali merunduk kepada Yang Maha Penentu terhadap segala sesuatu (wa hua 'ala kuli syaiin qodiir).

Atau kembali menghidupkan prasyarat kemuliaan sebagaimana termaktub dalam Kitab-Nya: ''fastabiqul khoiroot'' (maka berlombalah dalam kebaikan) (QS.2:148) dan ''wata'awanuu 'alal birri wattaqwa'' (saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan taqwa). (QS.5:2).

Republika, 9 Juli 2009

Baca Selengkapnya ..

8/07/2009

Kenali Penghambat Kreativitas

Sering kita mendengar seruan-seruan tentang pentingnya menumbuhkan sifat kreatif pada setiap orang. Entah seruan itu datang dari pemuka masyarakat, tokoh agama, pemerintah, guru atau yang seidentik dengannya. Apalagi dalam menghadapi era global seperti sekarang ini, kreativitas menurutnya perlu dipupuk dan ditumbuhkembangkan dengan baik.
Kreativitas yang mumpuni yang dimiliki oleh seseorang tentulah tidak sama, karena memang Tuhan tidak pernah memberikan talenta sama pada setiap makhluknya. Tentunya, itu semua dimaksudkan agar manusia bisa tetap bertahan. Coba bayangkan ...

jika semua manusia di dunia ini diberikan talenta yg sama, yakinlah bahwa kehidupan tidak akan terwujud.
Namun dibalik seruan-seruan tersebut, terpikirkah oleh kita, bagaimana cara memupuk dan menumbuhkembangkan kreativitas itu. Pertanyaan ini sekilas mudah untuk dijawab, namun untuk jawaban yang tepat mengenai pertanyaan itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Apa yang terjadi di sekitar kita, hingga saat ini, justru mengarah kepada kondisi dimana kreativitas itu secara sistematik dikikis dan kemudian hilang , … mati.
Contoh sederhana, munculnya produk-produk instan mengakibatkan kita malas untuk belajar menggali sesuatu. Berapa banyak generasi muda yang ketrampilan memasaknya hilang karena semua makanan sudah tersedia dalam bentuk instan. Apa artinya ini semua ketika semua sisi kehidupan sudah diberikan dalam bentuk instan? Kreativitasnya tidak akan tumbuh dengan maksimal. Inilah yang kemudian kita sebut dampak kemajuan. Sisi posotifnya memang kita rasakan namun kita tanpa menyadari sisi kreativitas kita terbunuh secara perlahan namun pasti.
Untuk itu tidak ada salahnya kalau kita mengetahui hal apa sajakah yang mesti harus kita hindari agar kreativitas itu muncul, dan terus muncul. Musuh ini harus kita kalahkan.Bukankah itu yang kita inginkan bersama? Menjadi bangsa yang senantiasa kreatif.

1. Aktivitas yang monoton;
Aktivitas semacam ini menyebabkan kita tidak mempunyai kemampuan yang baik untuk berkembang. Setiap hari aktivitasnya dari situ… dan kesitu lagi. Memang tidak kita pungkiri kita menginginkan suatu kemapanan. Namun pencapaian kemapanan yang baik adalah pencapaian yang diimbangi dengan munculnya aktivitas baru sebagai perwujudan kita menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

2. Tidak Punya Tujuan;
Setiap kita terlahir ke dunia sudah pasti Tuhan punya rencana terhadap kita, apa? Yaitu untuk beribadah. Sebegitu maha Sempurnaan Tuhan, dalam menciptakan kita saja memiliki tujuan, bagaimana kemudian dengan kita? Kehidupan kita setiap hari haruslah menunjukkan adanya peningkatan kebaikan, bukan malah sebaliknya. “Hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini”. Ungkapan ini menunjukkan betapa jauhnya visi seseorang menjalani kehidupannya. Dan itu semua akan terwujud sekiranya terdapat rencana-rencana besar yang tersesun dengan baik.

3. Tidak Mau Mengikuti Perkembangan;
Sering kita mendengar kalimat yang dilontarkan seseorang tentang apa yang sudah dicapainya saat ini. Ia bangga dengan segala perolehannya, mungkin gelarnya yg sederet panjang, mungkin hartanya yang berlimpah, atau hal-hal lain yang menurutnya menjadikan kebanggaan tersendiri. Memang tidak salah itu semua dibanggakan. Namun kebanggan itu janganlah kemudian menyebabkan seseorang lupa akan pola kehidupan yang dinamis. Dunia selalu mengalami perubahan. Perhatikan saja perubahan peradaban manusia saat. Perhatikan pergeseran perkembangan teknologi, dll. Kondisi seperti ini menuntut kita semua untuk selalu tanggap dan merespon dengan baik. Apalah makna dari gelar sederet panjang, ketika kemudian tidak tahu tantang perkembangan kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi? Dan kemudian tetap bertahan dengan ilmu yang didapat setelah sekian tahun berlalu. Jika ini yang terjadi tentu kita mengatakan orang semacam ini tidak patut untuk menyandang gelar sebagai insan kreatif. Kreativitas tidak memandang gelar, jabatan, maupun kekayaan seseorang. Jadilah orang yang selalu merespon terhadap perkembangan dan kemujuan zaman dengan respon-respon positf. Ambillah peran sesuai dengan proporsi Anda masing-masing.

4. Tidak Mau Bertanya;
Tidak sedikit yang hingga saat ini masih beranggapan bahwa orang bertanya itu dianggapnya bodoh. Oleh karena nya dalam suatu forum, kita masih banyak menemukan orang yang ketika diberi kesempatan untuk bertanya tidak bertanya, tetapi ketika di luar mereka tidak paham akan masalah tersebut. Siapa yang akan kita salahkan keadaan semacam ini. Suatu keadaan yang tidak kondusif dalam mengembangkan kreativitas seseorang. Tidak salah memang kalau ada pepatah yang mengatakan “malu bertanya sesat di jalan”. Jadilah generasi yang selalu berani bertanya akan sesuatu yang tidak anda fahami. Jangan perhatikan kiri dan kanan Anda saat akan bertanya sesuatu.

5. Takut mengambil resiko;
Anda berani hidup, berarti Anda telah berani mengambil resiko atas kehidupan yang Anda jalani. Tidak ada satupun kehidupan tanpa resiko. Karenanya bersiaplah dengan segala resiko. Manajemen resiko hingga saat ini memang belum ada yang secara khusus membahasnya. Tapi kita harus yakin bahwa resiko hidup itu akan kita alami, senang atau tidak, mau atau tidak pasti kita akan lalui. Oleh karenanya kita harus menggali dan selalu menggali apa arti suatu kehidupan, tanpa harus menunggu. Hanya orang-orang kreatif saja yang kemudian berani mengambil keputusan seperti itu. “ jangan hidup kalau tidak mau ada resiko, karena hidup merupakan resiko kehidupan itu sendiri”

Wallaahu'alam.

Referensi : “Menjadi Guru Kreatif”,Hernowo

Baca Selengkapnya ..

7/27/2009

Menghitung Zakat Mal


Pembaca budiman,Allah SWT telah mewajibkan zakat bagi seseorang yang hartanya telah mencapai batas nishab selama satu tahun (haul), bagi seorang muslim yang hartanya telah mencapai nishabnya maka ia diwajibkan untuk menunaikan zakat atas hartanya tersebut.
Untuk membantu menghitung dan atau memudahkan bagi pembaca budiman yang akan menunaikan zakat mal, …

saat ini telah tersedia software untuk keperluan tersebut. Software ini merupakan hasil buatan dari teman-teman dari penalette.com
Software ini merupakan dasar awal yang bisa di jadikan acuan dasar bagi perhitungan zakat. Fitur pada software ini masih membutuhkan pembenahan di sana sini, akan tetapi yang awal ini semoga bisa menjadi langkah untuk penyempurnaan ke arah yang lebih baik.
Langkah-langkah menghitung zakat:

1.Hitung harta yang wajib dizakati.

2. Cek apakah jumlah harta anda sudah mencapai nishab ataukah belum. Untuk zakat emas atau uang nishabnya adalah senilai 85 gram emas murni.

3. Jika harta tersebut sudah mencapai nishab maka ditunggu selama satu haul(1 tahun hijriyah), jika selama satu tahun hijriyah harta tersebut tidak berkurang dari nishab atau justru bertambah maka anda wajib mengeluarkan zakat harta anda sebesar 2,5%.

Contoh Penghitungan zakat dengan software Zakka 1.0:

1. Seseorang memiliki harta yang sudah dimiliki selama 1 tahun hijriyah, sebagai berikut:
• Uang tunai Rp 3.000.000,-
• Tabungan Rp 15.000.000,-
Berapakah zakatnya?
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung nishabnya. Misal harga emas murni saat ini adalah Rp 250.000 maka:
Nishab = 85 x 250.000 = Rp 21.250.000
Karena nilai harta tersebut belum mencapai nishab maka harta tersebut belum wajib dizakati.

2 . Seseorang memiliki harta yang sudah dimiliki selama 1 tahun hijriyah, sebagai berikut:
• Uang tunai Rp 10.000.000,-
• Tabungan Rp 15.000.000,-
• Piutang Rp 5.000.000,-
Berapa zakatnya? Silahkan dicoba…

(silahkan download softwarenya di samping lalu installkan ke komputer pembaca. Gunakan winrar)

Sumber : armudha.web.ugm.ac.id/?p=308



Baca Selengkapnya ..

7/12/2009

Mental Juara


Masih ingatkah ketika kita mengalami masa kanak-kanak? Masih ingatkah pertanyaan orang tua kita dengan cita-cita kita? Kalau tidak, masih ingatkah bayangan kita sewaktu kecil bercita-cita? Coba kita renungkan kembali sejenak.
Cita-cita adalah mimpi kita saat ini yang akan diwujudkan pada masa yang akan datang. Dengan kata lain cita-cita merupakan khayalan masa depan yang ingin kita wujudkan.
Begitu juga dengan cita-cita untuk dapat menjadi juara.
Untuk mewujudkan agar kita jadi juara maka kita harus berpemikiran seperti seorang juara. “Berpikir seperti seorang juara membuat ....


Anda menjadi juara
” Seorang yang bermental juara tidak ada kata menyerah. Yang ada dalam pikirannya adalah sikap optimistis dan bukan pesimis. “Mental juara selalu diliputi sikap mengubah negatif menjadi positif dan keterbatasan menjadi peluang
Juara dalam belajar. Dalam tulisan Bobbi De Porter & Mike Hernacki “Memupuk Sikap Juara” (90) dinyatakan bahwa aset sukses dalam belajar tidak mutlak hanya pada kecerdasan, Gen atau Pendidikan kita. Tidak salah memang ketiga hal tersebut memberikan pengaruh dalam kesuksesan belajar seseorang, tetapi ada atu hal lagi yang memberikan pengaruh lebih dari ketiga hal tersebut, yaitu sikap positif.
Lebih jauh Bobbi menyatakan sekiranya Anda mempunyai harapan yang tinggi terhadap diri Anda, harga diri yang tinggi, dan keyakinan bahwa Anda akan berhasil, Anda akan memperoleh prestasi tinggi “berpikirlah seperti seorang juara dan Anda akan menang”.
Tumbuhkembangkan dan bangun sikap positif, maka segalanya akan segera berubah. Kemungkinan akan menjadi probabilitas dan keterbatasan akan menjadi peluang. Emosi positif akan melicinkan jalan sukses seseorang.
Ketakutan, takut gagal, takut keluar daerah aman menuju area penuh resiko merupakan sesuatu yang lumrah yang dimiliki setiap orang.
Takut adalah hambatan abstrak yang selalu ada pada setiap orang. Ketakutan ini pula yang menyebabkan kita akan terkungkung dalam proses kehidupan yang tanpa tantangan, petualangan, kegembiraan atau perayaan. Ketakutan membuat kita jauh dari penjelajahan dan penemuan kemampuan yang tak terbatas.
Begitupun dengan kegagalan. Kehidupan kita tidak selamanya mulus. Adakalanya kegagalan menghampiri kita. Tetapi janganlah kegagalan itu kemudian menyebabkan kita sedih terus menerus atau menyebabkan tertahannya dalam mencapai tujuan. Setiap kegagalan harus mampu memberikan informasi kepada kita yang kemudian membawa kita pada suatu kesuksesan. Umpan balik yang diperlukan. Setelah belajar banyak dari kegagalan yang kita alami, kita dapat memperbaiki kesalahan dan kemudian mencapai puncak keberhasilan.
Ada suatu kebiasaan kurang mendukung dan bahkan sikap yang salah, yang muncul dalam kehidupan sehari-hari dalam mendorong keberhasilan. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi sikap ini dimunculkan sebagai upaya untuk menenangkan perasaan.
Mungkin kita pernah mendengar kisah seorang anak yang nilai keseniannya 5, misalnya. Atau matematikanya 4 atau yang lainnya. Ketika si anak sedih, tidak sedikit para orang tua, terutama ibu, mengatakan” Jangan kecewa nak, kan tidak semua pintar matematika, atau kesenian atau yang lain.” Kalimat itu tidak salah, dan memang kenyataannya tidak semua orang pandai di segala bidang. Namun jika direnungkan lebih dalam hal tersebut merupakan awal dari sikap negaif. Jika kita menerima ucapan itu sepenuhnya, dan kita tidak pernah berusaha semaksimalnya hingga berhasil, itu artinya kita telah membiarkan kegagalan menjadi siklus negatif yang membuat kita terus terpuruk dan menghabiskan tenaga.
Jangan biarkan kalimat “Aku tak bisa melakukannya” selalu bersemayam dalam diri kita. Kalau memang kalimat itu benar-benar telah tertanam dalam diri Anda maka yang terjadi dengan diri Anda adalah Anda benar-benar tidak dapat melakukan apapun, dimana pun dan kapan pun.
Tetapi jadikan kegagalan sebagai umpan balik sekaligus informasi untuk melakukan perbaikan-perbaikan seperlunya dengan teknik-teknik yang kita kuasai. Bangun mental juaramu!

Wallaahu’alam bishowab

Dedeh Mintarsih.

Referensi : Bobbi De Porter & Mike Hernacki, Quantum learning, Bandung, Kaifa.

Baca Selengkapnya ..
Terima kasih atas kunjungannya ya....

Kalo ada waktu mampir lagi donk .... :)